Rabu, 14 Desember 2011

BAIT KEMATIANKU

Tertahan dalam ruang yang redup
Ku tenangkan diri dengan menunggu pagi
Ku biarkan luka ini berlalu
Agar aku mampu membidik kisah laraku

Ku menjerit tiada henti
Menangis histeris seakan akan mati
Melepaskan harapan kosong dalam diri
Dengan menusukkan jarum dalam hati

Mataku tertutup kabut airmata
Hatiku tergeluti rasa bimbang dan lara
Kepalaku ku benturkan dengan serpihan kaca
Senantiasa melampiaskan kehancuran

Ku pukul diri dengan janji
Ku bius rasa dengan dusta
Ku genggam tali yang berduri
Tuk mengetuk hati yang terkunci

Cecer darah dalam kain putih
Membuat hidup ini semakin terasa pedih
Ku coba tuk tak merintih
Namun airmata mengalir tiada henti

Sia sudah pertahananku
Hancur sudah tanggul ketegaranku
Roboh sudah dinding keikhlasanku
Tertimbun rasa takut karena ajal telah menjemput

Ku tuliskan kisah perjalanan hidupku
Dalam satu buku usang
Tersirat semua kehancuran cinta
Yang pernah aku rasa

Ku akan terkulai tak berdaya
Terbujur kaku menahan lara
Suasana tangis dan doa
Kan tercurah dalam satu teorema

JANGAN MENANGIS !!
Aku mohon jangan ada airmata ketika aku tiada
Ikhlaskan kepergianku
Disaat bait kematian menjelma dalam diriku. .

Tidak ada komentar:

Posting Komentar